Jumat, 20 Mei 2011

Mati Rasa

Wah... udah lama banget yah saya ga update blog, makasih yah teman-teman yang masih rajin nengokin blogku ini. Saya ingin menceritakan kejadian beberapa hari lalu yang menurut saya aneh.

Dua hari yang lalu tepatnya hari Rabu, seperti biasa saya pulang bekerja dan turun dari angkutan umum tepat di depan salah satu minimarket yang sudah tersebar di seluruh Indonesia (lebay banget nih kalimatnya he...he...). Dan seperti biasa saya harus menyebrang dari minimarket tersebut menuju jalan masuk menuju rumah saya.

Seperti lazimnya orang menyebrang jalan, saya melihat kanan terlebih dahulu dan melihat jalur kendaraan sebelah kiri sedang jalan perlahan dikarenakan ada pertigaan. Akhirnya menyebranglah saya, di jalur kanan aman, tapi ketika saya menengok ke arah jalur sebelah kiri saya, ternyata ada mobil truk besar yang sedang menyalip dan hampir menabrak saya jika tidak sesegera mungkin saya melangkah mundur.

Seharusnya kejadian tersebut membuat saya ketakutan, tapi yang terjadi adalah saya tidak merasakan perasaan apa-apa dan melanjutkan menyebrang jalan setelah truk itu lewat. Orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian memandang saya dengan tatapan yang sangat aneh. Karena pada saat kejadian saya tidak berteriak ataupun panik dan hanya beristigfar dengan pelan. Saya jadi bingung sendiri, kenapa saya seperti orang yang mati rasa yah?...

Sumber gambar disini

Senin, 18 April 2011

Menangis



Hari Sabtu kemarin, saya berkunjung ke rumah teman saya yang kebetulan letaknya tidak jauh dari rumah. Kami terlibat pembicaraan seputar kehidupan kami, sampai teman saya berkata, "Lo hebat banget yah, bisa apa-apa sendiri, kalo gw mungkin udah nangis terus". Saya pun menjawab, "Lo ga tau aja, gw juga sering nangis, tapi masa gw musti bilang-bilang sama orang lain". Sampai Eri suka bilang ke saya, "Ibu apa-apa nangis", ya... memang Eri sering melihat saya nangis, bahkan lebih sering dari suami saya.

Buat saya menangis lebih baik daripada saya terus mengeluh dan meratapi hidup yang sebenarnya mungkin sanggup saya jalani. Setelah menangis, saya bisa berpikir jernih untuk mencari solusi atas permasalahan yang sedang saya hadapi. Ga perlu nangis setiap hari, tapi ada saat-saat dimana menangis itu diperlukan. Bukan begitu teman-teman?

Tadi sempat googling kenapa perempuan suka menangis, eh nemu blog ini, dan silahkan dibaca tulisannya:

"Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan."

"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya."

"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh."

"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya."

"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya."

"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu."

"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk dititiskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan bilapun ia perlukan."

"Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, susuk yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya.Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, kerana itulah pintu hatinya, tempat dimana cinta itu ada."




Kamis, 31 Maret 2011

Pentingnya Dokumentasi

Pentingnya Dokumentasi

Kamis, 31 Maret 2011 07:43 WIB

Oleh: Asep Sofyan

Ketika Rasulullah SAW menyuruh para sekretarisnya mencatat ayat-ayat Alquran dan surat-surat perjanjian, pada saat itu sebetulnya beliau tengah menekankan pentingnya dokumentasi. Ketika para sahabat, tabiin, dan tabiit tabiin menuliskan sabdasabda Nabi dan menghimpunnya dalam kitab-kitab hadis, mereka tengah menyadari pentingnya dokumentasi.

Ketika para khalifah Islam membangun perpustakaan, menyimpan dan menerjemahkan karya-karya dari bahasa non-Arab, mereka juga tengah meneguhkan pentingnya dokumentasi.

Mengapa kaum Muslim berjaya pada masa lalu? Itu karena, mereka memiliki dokumentasi yang lengkap tentang catatan-catatan peradaban, baik pada masa Islam maupun sebelumnya, baik dari negeri-negeri Islam maupun dari negeri-negeri di luarnya. Keruntuhan Islam dimulai persis ketika pusat-pusat dokumentasi itu hancur akibat serbuan tentara Mongol.

Buku-buku dan koleksi lain yang disimpan di dalamnya hilang, terbakar, atau dibuang ke sungai sehingga konon air sungai di Bagdad hitam pekat oleh tinta.

Meski kemudian tentara Mongol dapat diusir kembali, umat Islam sulit bangkit dari kejatuhannya karena catatan-catatan pengetahuan mereka telah dilenyapkan.

Kita juga patut mencatat, mengapa sejak tiga abad lalu Barat lebih maju daripada Islam. Itu karena mereka melakukan dokumentasi. Mereka memiliki simpanan naskah-naskah, arsip-arsip, maupun benda-benda bersejarah dari seluruh dunia.

Kita tahu banyak naskah kuno dan benda berharga warisan budaya Indonesia justru disimpan di perpustakaan/museum Belanda dan negara-negara Barat lain.

Oleh karena itu, dokumentasi menempati titik sentral bagi majunya suatu peradaban. Dokumentasi bisa dilakukan oleh individu, organisasi, maupun negara. Tapi sayangnya, pusatpusat dokumentasi di negara kita masih sangat minim.

Perpustakaan, taman bacaan, museum, dan pusat arsip yang ada pun kondisinya memprihatinkan, baik dari kuantitas, koleksi, maupun dari jumlah pengunjung.

Perpustakaan di universitas atau sekolah mungkin agak mendingan, tapi perpustakaan di kantor-kantor instansi, masjid, ataupun di tempat umum hampir semuanya bernasib sama, sepi pengunjung. Sepi pengunjung berarti sepi pembaca.

Namun, betapa pun pentingnya dokumentasi, itu baru langkah awal. Melakukan dokumentasi semata tidak lantas membuat sebuah bangsa menjadi maju peradabannya. Dokumentasi harus diikuti oleh langkah selanjutnya, yaitu membaca, menelaah, memaknai, dan menciptakan karya baru.

Warisan masa lalu jangan dibiarkan usang. Pelajari, maknai, dan ciptakan kembali dalam bentuk dan semangat yang sesuai untuk zaman berjalan. Dengan itulah, suatu bangsa akan mengalami kemajuan.

Oleh karena itu, jika akhir-akhir ini terdengar isu ada sebuah pusat dokumentasi yang terancam ditutup, barangkali itu tidak semata kesalahan pemerintah. Kita jugalah yang jarang mengunjunginya, sehingga pihak yang berwenang lupa bahwa tempat tersebut ada dan patut dilestarikan.

Sumber:http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/03/31/liwco7-pentingnya-dokumentasi


Rabu, 23 Maret 2011

Surat Buat Dijaku


Halo Dija :)
Mungkin kita belum pernah kenal secara langsung yah, tapi setelah saya baca tulisan tentang Dija di blognya Tante Elsa, saya langsung jatuh cinta sama Dija.

Saat Dija baca surat ini pasti Dija sudah mulai bersekolah yah dan mulai punya banyak teman. Pintar-pintar memilih teman yah Dija, jangan ikut-ikut teman yang nakal dan Dija harus selalu rajin bersekolah dan belajar.

Selamat ultah yang ke 7 yah Dija... Semoga Dija jadi anak yang sholehah, cerdas dan selalu sayang sama Tante Elsa, Ayah & Kakak-kakak Dija serta semua orang yang sudah merawat Dija, sejak Dija lahir sampai sekarang. I Love U Dija.

Tulisan ini saya ikut sertakan dalam Dija's First Birthday Giveaway: Letters to Dija.

Senin, 21 Maret 2011

Quote

"Cinta memang tidak bisa membuat perut kenyang, tapi cinta seharusnya bisa membuat kita berusaha membuat perut keluarga kita kenyang."


Jumat, 18 Maret 2011

Update: Eri

Sejak hari Sabtu siang minggu kemarin Chusaeri panas, saya pikir ini panas biasa karena memang semenjak Eri saya titipkan ke tetangga semenjak 2 minggu terakhir memang setiap hari Sabtu biasanya panas. Tapi Sabtu minggu lalu sepertinya tidak seperti Sabtu biasanya. Dia sudah tidak mau main dan tidak mau makan, hanya ingin tiduran sambil menonton televisi. Setelah diberikan obat penurun panas, panas tubuhnya turun tapi kembali panas setelah efek obatnya hilang.

Pada malam hari, 30 menit setelah minum susu, Chusaeri saya berikan obat penurun panas, tapi ternyata dia muntah. Saya sungguh panik dan khawatir karena kebetulan di rumah hanya berdua dengan Eri, ayahnya sedang ke Lampung dan ibu saya sedang menemani kakak saya yang belum lama ini melahirkan di Jakarta.

Keesokkan harinya Eri kembali muntah setelah minum obat. Untungnya ibu mertua saya datang dan menunggui Eri sampai dia mau makan (terima kasih ibu mertuaku :)). Alhamdulillah setelah mau makan dan minum obat, panas Eri turun dan dia sudah tidak lemas lagi. Kondisi tubuhnya terus membaik, tapi saya dan ibu mertua saya tetap memutuskan untuk membawa Eri ke dokter spesialis anak langganan kami pada hari Senin.

Pada hari Senin, saya menghubungi tempat praktek dokter tersebut dan dikabarkan dokternya sedang ada di luar kota dan baru praktek kembali bulan depan. Saya jadi bingung, karena hanya dokter spesialis anak tersebut yang cocok dengan anak saya. Setelah berdiskusi dengan keluarga dan melihat kondisi Eri yang sudah tidak panas dan terus membaik, malah Chusaeri sempat foto-foto saat minum jus, salah satunya foto yang di atas itu. Maka saya memutuskan untuk berobat ke dokter umum langganan kami saja.

Sore harinya, saya dan Eri berangkat ke dokter umum yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah kami. Saya sungguh kaget dengan diagnosa dokter tersebut, ternyata Eri didiagnosa sakit gejala tipes. Mohon maaf yah teman-teman kalau beberapa hari ini saya belum sempat blogwalking...

Selasa, 08 Maret 2011

Quote

"Janganlah persempit manfaat diri,
jadilah laki-laki & perempuan yang punya banyak manfaat."