Jumat, 30 April 2010

Perempuan Part2

Bulan demi bulan pun dilewati , perutnya pun kian hari kian membesar tapi kandungannya pun tak juga berhasil digugurkan hingga usia kandungannya mencapai 9 bulan dan membuat orang sekelilingnya pun mulai curiga.
Ibu sang perempuan: "Kamu hamil?".
Perempuan: "Enggak Mah".
Ibu sang perempuan: "Tetangga udah pada ngomongin kamu tuh, beneran kamu gak hamil?".
Perempuan: "Bener enggak Mah".
Sang Ibu berhenti bertanya sambil mencoba mempercayai anaknya, tapi perubahan fisik sang anak membuat sang Ibu tidak bisa mempercayainya begitu saja.
Ibu sang perempuan: "Ini obat apa?!"
Perempuan: "Bukan obat apa-apa kok Mah".
Ibu sang perepuan: "Kamu hamil kan?!, kamu mau gugurin kandungan kamu kan?!, ngaku aja biar semua bisa kita selesaikan dengan segera".
Sang perempuan tetap membantah dan pergi dari rumah untuk menemui sang laki-laki.

Perempuan: "Gimana nih? Mamah udah tau aku hamil, aku musti gimana?".
Laki-laki: "Kamu minum obatnya ga sih?".
Perempuan: "Aku udah minum obat, dipijit juga ikut senam aerobic, tapi tetap ga bisa juga, tolong kasih keputusan ke aku".
Laki-laki: "Aku gak bisa nikahin kamu sekarang, aku sayang sama kamu, tapi aku gak bisa".
Perempuan: "Trus gimana sama aku, emangnya kamu juga gak sayang sama anak kita, kamu kan lihat sendiri waktu di USG kemarin anak kita laki-laki, pasti dia sangat lucu".
Laki-laki: "Yaudah gimana setelah anak ini lahir, kita titipkan dan kita ambil lagi disaat aku sudah lulus kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan?".
Lagi-lagi sang perempuan hanya mengiyakan perkataan sang laki-laki.

Bersambung

Kamis, 29 April 2010

Perempuan

Perempuan: "Aku hamil".
Laki-laki: "Aku ga mungkin nikahin kamu, aku masih kuliah, anak ini mau dikasih makan apa, digugurin aja!".
Perempuan: "Emangnya kamu gak sayang sama aku?".
Laki-laki: "Aku sayang sama kamu, tapi gak mungkin kita nikah sekarang, tolong ngertiin aku dong".
Sang perempuan hanya menangis dan mengiyakan perintah sang laki-laki untuk menggugurkan kandungannya.


Bersambung

Selasa, 27 April 2010

Rezeki

Beberapa minggu yang lalu, saya berdiskusi dengan Ust. Abdi Kurnia SH, beliau adalah salah satu dosen Agama di UI. Saya bercerita tentang ketakutan saya pada saat seketika Allah SWT mengambil ayah saya dari dunia ini pada tahun 2006, sejak tahun 2004 ayah saya memang sudah sakit-sakitan dan karena secara ekonomi kami sekeluarga bergantung sepenuhnya kepada ayah saya. Keadaan ini membuat kami sekelurga terguncang hebat secara Psikologis.

Kejadian itu setidaknya membuat saya selalu berusaha untuk tidak menggantungkan hidup kepada sipapun dan menurut saya itu suatu hal yang positif, dan hal yang negatifnya adalah ketakutan saya yang berlebihan apabila kenikamatan rezeki saya sekarang ini diambil oleh Allah SWT.

Dari diskusi yang panjang saya dengan beliau, beliau mengatakan bahwa "Tidak ada ilmu yang pasti di dunia ini yang dapat menentukan berapa rezeki yang akan kita dapat, setiap manusia sudah ada rezekinya diatur oleh Allah SWT, dan percayalah bahwa jika kita beriman & bertakwa kepada Allah, suatu hari nanti Allah akan membuat kita kaya. Sekarang Allah sedang menguji kesabaran kita, pasti ada waktunya".

Kaya apa yang dimaksud oleh beliau, silahkan teman-teman artikan sendiri yaaaa...^_^

Jumat, 16 April 2010

Kecopetan...hiks...hiks

Hari Rabu kmarin saya kecopetan saat sedang menaiki KRL ekonomi menuju tempat saya bekerja, perkiraan saya sih hilangnya di stasiun Bojong Gede atau stasiun Citayam. Pada waktu itu memang keretanya sangat penuh, sehingga saya tidak merasakan sama sekali tas saya telah dibuka dan diambil isinya.

Barang yang hilang handphone, uang dan kunci ruangan tempat saya bekerja. Pada saat mengetahui bahwa saya kecopetan sih biasa aja, cuma sayang isinya... dapetin semua itu kan harus berjuang naik kereta api yang penuh banget setiap hari sampai badan pada sakit. Eh malah sampai rumah dan sampai sekarang jadi kepikiran terus. Yah mudah-mudahan Allah SWT membukakan pintu hati sang pencopet biar taubat dan kasih rezeki yang banyak biar dia gak nyopet lagi... Amin... hiks...hiks... :(

Jumat, 09 April 2010

It's Friday

Hari jum'at hari yang saya tunggu-tunggu biasanya, kenapa? karena besok weekend jadi bisa bermalas-malasan dan bermain dengan Chusaeri di rumah. Tapi hari Jum'at ini capek banget dan badan saya terasa sakit, dikarenakan tadi pagi KRL ekonomi yang saya biasa naiki dari stasiun Bogor mogok, sehingga saya harus menaiki KRL berikutnya yang tentu saja dengan jumlah penumpang yang lebih banyak.

Pada saat KRL yang saya naiki sampai Bojong Gede penumpang di dalam KRL sudah sangat penuh sekali, dan benar saja ketika sampai stasiun Citayam tidak semua penumpang yang berada di stasiun tersebut terangkut. Saking penuhnya dan kebetulan postur tubuh saya yang kecil, akhirnya saya terjepit dengan kencangnya diantara penumpang dan saat itu saya melihat seperti semuanya gelap, pada saat itu yang saya rasakan cuma ingin menangis karena memang selama tiga tahun saya menaiki KRL ekonomi, baru kali ini saya merasakan begitu peeeeenuuuuuuhnya kereta yang saya naiki.

Akhirnya sampai juga di tempat tujuan saya, yaitu Pondok Cina dan Alhamdulillah bisa keluar dengan selamat. Pada saat berjalan menuju tempat saya bekerja saya mengobrol dengan seorang ibu pegawai kantin Fasilkom UI, isi pembicaraanya seperti ini;
Saya: "Bu, tadi di dalam kereta saya pengen nangis deh..."
Ibu kantin: "Iya kita cari uang sampai begini banget yah"
Kemudian saya cuma terdiam karena terharu dengan yang Ibu itu katakan.

Selamat Weekend... ^_^

Kamis, 08 April 2010

Tiduri Aku…Ibu!!! (Kisah Nyata?)

Tiduri Aku…Ibu!!! (Kisah Nyata?)
By elha (http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/16/tiduri-aku-ibu-kisah-nyata/)

.…Tersentak hati Bu Dina mendengar permintaan anaknya. Anak laki-lakinya ingin ditiduri, ingin diberi kehangatan darinya….kehangatan seorang wanita. Kehangatan…hmm……

—oooOooo—

Sebagai seorang wanita yang cantik, Dina memiliki hampir segala yang diimpikan kaum wanita. Parasnya ayu, manies dan selalu enak dipandang. Bentuk hidung, mata, alis, bulu mata hingga ke garis pipi yang tertata indah bak bulu perindu diatas bintang timur diwaktu senja. Posturnya tubuhnya sangat ideal untuk seorang wanita. Kulitnya yang putih dan jenis rambutnya yang panjang hitam bergelombang menambah nilai keaggunannya. Kemolekan lekuk tubuhnya menyebabkan ia sering disebut wanita terseksi.
Dina, seorang wanita karir pada salah satu perusahaan swasta besar di Ibukota, termasuk wanita yang cerdas. Ditunjang pendidikan formalnya yang merupakan alumni Pasca Sarjana Komunikasi Universitas ternama.
Loyalitas terhadap perusahaan tidak diragukan lagi, sehingga menjadikan dirinya sebagai salah satu ’maskot’ pegawai diperusahaannya. Tak heran bila karirnya bagai ’rising’ star. belum sepuluh tahun bekerja, dia sudah menduduki jabatan penting, setingkat Department Head (Kepala Bagian). Dikenal dekat dengan bawahan. Suppel dan mampu berkomunikasi dengan baik dengan jajaran pimpinan. Tipikal Dina selalu menjadi bahan pembicaraan dikalangan pegawai, gunjingan hingga tentu saja ’fitnah’ dari orang-orang yang tidak menyukainya. Apalagi ketika terdengar kabar bahwa dia akan dipromosikan menjadi salah satu deputy kepala divisi.
’ah…paling dengan keseksiannya’ kata mereka yang tidak suka.

—oooOooo—

”Ibu mau kemana….?” tanya Fitri, puteri bungsunya
”Ibu mau berangkat ke kantor nak…” jawab Dina, sambil merapihkan pakaiannya
”Kok masih gelap bu….bareng ayah gak bu…?” tanya Fitri lagi dengan bahasa anak yang agak cadel
”Ayah khan belum pulang nak. Masih di Bandung…” jawab dina, tanpa memalingkan wajah dari cermin hiasnya
Jam masih menunjukkan pk. 04.25 pagi. Hari masih gelap. Anak-anaknya masih terlelap, kecuali Fitri yang terbangun karena mendengar suara peralatan riasnya.
”Aku tidak boleh terlambat…aku harus tiba sebelum Bos dan Klienku datang..” pikir Dina dalam hati
”Bu, aku masih mau tidur….” kata Fitri
”Iyya nak….”
.Dina mencium kening anak puteri satu-satunya itu. Dengan penuh kasih sayang dipeluknya erat sambil berkata pelan, ”Nanti sekolah sama si Mbok ya….sarapan disekolah juga gak apa-apa kok…Ibu harus berangkat pagi-pagi…”
”Ah, Ibu…kemarin sudah pegi pagi…kemarinnya lagi pagi, sekarang pagi lagi…” keluh Fitri, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya
”Fitri, Ibu bekerja juga untuk Fitri. Untuk sekolah Fitri dan Adit…..untuk membelikan Fitri rumah-rumahan dan masak-masakan…” jawab Dina pelan
”Tapi Ibu selalu pulang malam. Fitri gak pernah tidur bareng Ibu. Makan sama si Mbok…sekolah juga sama si Mbok….” keluh Fitri lagi sambil menggulingkan tubuhnya.
”Fitri, Ibu mau berangkat…..kamu berangkat sama si Mbok ya…!” seru Dina dengan sedikit keras dan wajah agak memerah.
Dina segera keluar kamar. Dia memang tidur bersama anak puterinya yang masih berusia tiga tahun. Ketika akan membuka pintu kamar, Dina menyempatkan diri melihat raut wajahnya dicermin.
Terlihat jelas rona merah diwajahnya. Warna kulitnya yang putih menambah kejelasan ’rona merahnya’. Dina menghela nafas panjang, kemarahan sesaat telah merubah tutur bahasanya. Sudah merubah pula paras ayunya…
”Huh…Fitri selalu membuat aku marah….Fitri sering memperlambat jalanku ke kantor…” keluhnya sambil mengusap keringat didahinya.
”Ah sudah pk. 04.45…aku bisa terlambat …”
Dina mempercepat langkahnya. Sampai diteras rumah keraguan muncul dihatinya….Dia belum sempat bicara dengan Adit, anak sulungnya…
”Ah dia khan sudah tujuh tahun. Sudah lebih besar. Dia pasti ngerti lah…”

—oooOooo—

Presentasi mengenai pengembangan perusahaan, khususnya bidang komunikasi, kemitraan dan pemasaran yang dipaparkan Dina memdapatkan sambutan luar biasa dari Stake Holder (Pemegang Saham, Komisaris, Jajaran Direksi dan Mitra Kerja). Sambutan itu ditandai dengan tepuk tangan meriah sambil berdiri dan ucapan selamat yang seolah tak putus.
Senyum sumringah tersembul dari wajah Dina. Perasaan puas memenuhi rongga hatinya. Dia menghela nafas panjang. Memejamkan mata sesaat….”Akhirnya aku berhasil….”
Untung aku bisa mempersiapkan diri dengan baik. Untung juga aku tiba lebih awal sehingga bisa mengkondisikan semuanya…….
”Dina selamat ya….tidak sia-sia kami menempatkan kamu sebagai Dept Head Promosi & Kemitraan…..” kata seorang Direksi sambil menjabat erat tangan Dina.
Jabatan tangan yang terasa ’lain’. Terasa ada getaran ’hangat’ yang menjalar melalui jari-jari terus hingga pangkal tangan, dan meluncur deras dihati. Jantung berdegup kencang…entah perasaan apa itu. Yang jelas perasaan itu membuatnya pikirannya ’kacau’, hatinya diliputi oleh suatu misteri..entah misteri apa
”Dina, kerja kamu luar biasa…..masih muda, cantik, jenius….tak salah jika Perusahaan memberimu posisi tsb…..” kata seorang Komisaris
Pujian komisaris menambah kencang degup jantungnya…seolah darah berhenti mengalir. Seolah kaki sulit untuk digerakkan. Dengan menghirup nafas pelan, Dina membalas pujian tsb
”Terima kasih Pak..terima kasih…semua berkat bantuan dan bimbingan Bapak…”
”Berapa usiamu sekarang… adakah 40…?” tanya Komisaris itu lagi
Dina tersipu malu…..rona merah kembali menghiasi wajahnya….
”Saya baru 34…. Pak…” jawab Dina sambil tertunduk malu
”Wow…Surprise…kita memiliki calon direksi termuda. Cantik, jenius dan ber-visi…semoga kamu sukses ya….”
Dina terkesima. Tak percaya. Calon direksi….? ah, gak mungkin… aku salah dengar….

—oooOooo—

Minggu, pk. 04.00 Dina terbangun.
Ohhhhh….lelah pikiran dan badannya membuatnya agak sedikit malas untuk bangun. Namun undangan stake holder untuk sekedar minum kopi pagi di Kafe Padang Golf mengharuskan dia untuk segera bergegas…..
”Ah….ngantuknya…..”
Dina kembali merahkan badannya….rasanya dia ingin meliburkan diri bersama anak-anaknya….terutama Fitri yang kemarin membuatnya sedikit marah….
Tapi…undangan Direksi dan Komisaris adalah sebuah ’Perintah’…laksana titah Raja yang harus dijalankan, meskipun hanya ajakan sambil lalu…
”Ahhhh…..”
Dina mulai menyiapkan diri. Mandi pagi dan sedikit bersolek….tampil agak cantik dan…hmmmm..seksi dikit rasanya tidak apa-apa. Toh akan bersantai bersama orang-orang penting ’penguasa’ kantor….’apalagi bila….bila ada yg tertarik padaku…’ pikirnya..
’ah pikiran ngelantur…..’ pikirnya lagi
”Ibuuuu….Tolong tiduri aku Bu….” seru Adit sambil berjalan pelan dan membawa bantal guling yang sarung entah kemana
”Adiiit….?” tanyanya heran
”Adiit….” seru Dina kembali. Heran, tidak biasanya Adit bangun pagi dan pindah ke kamarnya.
”Ibuuu…tolong tiduri aku bu…semalam aku gak bisa tidur…aku kepikiran Ayah….aku ingin bermain bersama Ayah….”
”Adit. Hari ini Ibu masuk kantor….Ibu akan bertemu Bos di kantor…” jawab Dina
”Ibuuu…tolong tiduri aku…aku ngantuk …pengen tidur bareng Ibu…” pinta Adit, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Dina, Ibundanya…
Dina terdiam. Hatinya semakin membuncah….perasaan malas memenuhi undangan Direksi kembali muncul….tapi motivasi untuk memperlihatkan loyalitas demikian tinggi…dus, dia sudah berdandan seksi.
Diusap-usap perlahan kepala Adit. Rambutnya yang sedikit ikal bergelombang mirip seperti rambutnya. Bentuk wajahnya yang agak oval dan halus merujuk pada ayahnya…
”ahhh..aku jadi ingat Mas Darman. Wajah Adit mirip ayahnya….semalam dia memberi kabar kalau Meeting di bandung diperpanjang karena banyak Klien baru yang ikut datang….” bathin Dina dalam hati….seketika ia merasa bersalah dengan suaminya.
”Adiiit, Ibu harus pergi sayang…..Ibu harus masuk kantor…..”
”Tapi buu…” Adit tidak bisa meneruskan kalimatnya, karena Dina mengangkat kakinya perlahan, sehingga kepala Adit berpindah ke bagian pinggir tempat tidur.
Dina meneruskan riasannya dimuka cermin yang ada di sisi kanan tempat tidurnya. Bibirnya diolesi lipstick tipis warna merah muda, sesuai dengan pakaian yang dikenakannya. Pakaian terbaik yang dimilikinya, hadiah Ulang Tahun dari Mas Darman suami tercinta.
”Mas Darman pasti akan silau bila melihat aku sekarang. Pasti akan memujiku ’Cantiiik’..hehehe…sayang dandananku saat ini untuk orang lain….”
”Huk..huk..huk..” suara batuk kecil beriak keluar dari mulut Adit
”Adiit, kamu batuk. Jajan apa kamu kemarin” tanya Dina sambil terus memainkan penghalus bedak dipipinya
”Huk..huk..huk..” suara itu kembali terdengar
“Mboookkk….tolong ambilkan air putih hangat. Adit batuk nih” teriak Dina dari dalam kamarnya
Tepat pk. 05.00 Dina meluncur menuju Kafe Padang Golf. Perjalanan akan memakan waktu 30 menit. Cukuplah. Karena pertemuan dan sarapan kopi pagi baru akan dimulai pk. 06.00. Tapi biasanya banyak yang sudah datang dengan perlengkapan stick golf, termasuk pemilihan ’caddy’ pendamping permainan golfnya nanti.

—oooOooo—

Dina sangat menikmati suasana Kopi Paginya. Dia begitu cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tidak ada lagi perasaan canggung, malu dan minder bercengkerama dengan jajaran Direksi, Komisaris dan Pimpinan Unit Mitra Kerja. Apalagi dalam acara yang dikemas secara informal ini. Seolah ia sudah menjadi bagian dari mereka. Jajaran elit perusahaan.
”Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu…meski tak layak ku harap debu Cinta-MU” ringtone HP Dina berbunyi….
”Maaf Pak,,,,,,,” Dina tak sanggup meneruskan kata-katanya untuk meminta ijin mengangkat Hpnya
”Silakan ..silakan….ini suasana santai kok” jawab salah seorang Direksi
”Permisi Pak”
”Meski begitu ku akan bersimpuh… Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu….” ringtone itu terus berbunyi…
Ditempat yang agak jauh dari kerumunan orang Dina mengangkat Hpnya…
”Hallo….” sapanya
”Bu…kamu ada dimana sekarang….?” tanya suara disana dengan lembut
”Sedang bersama Direksi dan komisaris di kantor.. Yahas…” jawab Dina
Ohhh,…ternyata dari mas Darman, suaminya. Dina terbiasa memanggilnya Ayah, menyesuaikan diri dengan panggilan anak-anaknya
”Loch emangnya masuk… ?” tanya Mas Darman lagi
”Iyya Yah…”
”kapan pulangnya…Adit sakit di rumah kata si Mbok…”
”nanti siang…..atau mungkin juga sore…”
”Yaa sudah…biar Ayah saja yang pulang segera”

—oooOooo—

Pk. 15.30 Dina kembali kerumahnya. Sarapan Kopi Pagi di kafe Padang Golf ternyata diteruskan dengan acara ramah tamah dan meeting informal dengan Mitra Kerja dan Klien. Beberapa Kontrak Kerja ’deal’ setengah kamar dalam ramah tamah itu. Dina baru mengetahui kalau banyak ’deal’ ’deal’ kontrak kerja yang putus di Kafe, Padang Golf serta jamuan makan. Mungkin karena lebih santai dan informal….pikirnya, sehingga lebih mudah untuk bicara dari hati ke hati
Tiba di ujung jalan pemukiman, Dina melihat banyak orang berduyun menuju satu rumah dengan membawa nampan, rantang dan gelas-gelas kecil.
”Ada apa ini…?” tanya Dina dalam hati
Ada bendera kuning terikat di atas tiang listrik tepi jalan…
”Ohh ada yang meninggal….”
Dina mempercepat langkahnya. Ia juga ingin melayat. Ia tak ingin juga tertinggal dalam urusan sosial di lingkungannya….
Tak berapa lama Dina tersentak. Kakinya kaku tak bisa digerakkan….dia melihat banyak orang berkerumun dipekarangan rumahnya. Kebanyakan ibu-ibu dan wanita yang mengenakan pakaian berwarna gelap dan berkerudung. Bapak-bapak ada di ruang tengah…
”ohh…apakah…apakah…..”
”Tidaaaakkkkkkkkk”
Dina mencoba untuk berlari. Namun kakinya semakin sulit bergerak.
Air mata Dina deras mengalir ketika ia melihat seorang bapak berpeci hitam dan berpakaian muslim putih sedang melantunkan ayat-ayat Qur’an. Dari suaranya tersendat terlihat jelas bahwa Bapak itu menahan tangis. Kadang sesegukan sesekali menghambat laju bacaan Qur’annya..
”Mas Darman…..Ayahhhhhh” seru Dina setengah berteriak
“Ayah siapa yang meninggal Yah….?” tanya Dina kepada Bapak yang sedang mengaji tadi
”Ayah..siapa yah….?” tanyanya lagi
Bapak tadi tidak menjawab. Telunjuk jarinya mengisyaratkan bahwa Dina bisa membuka kain kafan yang belum tertutup
Dengan sedikit merangkak, Dina berjalan tersendat, dan membuka kain kafan penutup wajah si mayit.
”Yaa Allah…Aadiiitttt” Dina langsung memeluk tubuh jenazah itu
”Maafkan Ibu Nak….maafkan Ibu nak…….” teriak Dina keras, membuat seisi rumah menoleh kepadanya. Bahkan beberapa orang yang berada di luar juga berlari kearah rumah
”Adddiiiiittttt….Sini nak…Ibu akan tiduri kamu…Ibu akan tidur bersamamu Nak…..”
”Addiiittttt bangun nak..Ibu sudah pulang…Ibu sudah pulang nak….”
”Ibu ingin tidur bersama mu….”
Dina meraung keras seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya….air matanya mengalir deras. Tak kuasa menahan sedih. Rasanya ingin sekali ia menggoyang-goyangkan tubuh kaku itu agar kembali bergerak….namun Mas Darman segera merangkulnya. Memeluknya. Dan mencium keningnya…
”Bu….ini salah kita..salah Ayah….Ayah terlalu sering meninggalkan keluarga..”
”Bukan Yah…ini salah Ibu…tadi pagi Adit minta ditemani tidur, tapi Ibu tolak…”
”Ya sudahlah…ini salah kita semua. Adit terkena paru-paru basah akut. Dan terlambat ditolong…..”

—oooOooo—

Anak, isteri, suami dan keluarga adalah perhiasan dunia. Perhiasan yang paling indah adalah istri yang sholeh (Amar’atush-Sholihah), suami yang adil (’imamun ’adilun) dan anak-anak yang mendoakan orang tuanya (awaladdun sholihin yad’ulah)

Salam ukhuwah elha.

Dicopy dari sini

Selasa, 06 April 2010

Jurusan Manajemen atau Perpustakaan

Beberapa bulan yang lalu, saya dan suami membuat kesepakatan bahwa beberapa tahun lagi mungkin saya harus berhenti bekerja di luar rumah yang terikat jam kerja, solusinya adalah membuat usaha sendiri agar waktu kerja saya lebih fleksibel dan bisa fokus mengurus anak. Kebetulan saya tidak punya pengetahuan tentang bisnis sama sekali, selama ini kalaupun berjualan apapun yah pakai ilmu logika dagang sendiri aja. Akhirnya setelah diskusi yang panjang kami memutuskan bahwa saya harus meneruskan S1 Manajemen agar bisa memanage dengan baik usaha yang akan kami buat.

Awalnya saya keberatan, saya ingin sekali melanjutkan pendidikan S1 Perpustakaan, karena pendidikan saya sekarang hanya D3 Perpustakaan dan saya sudah hampir 3 tahun bekerja di perpustakaan, juga banyak cita-cita yang saya ingin wujudkan di dunia perpustakaan. Tapi kalau saya egois bagaimana dengan anak saya, saya berpikir Insyaallah kalau nanti dikasih rezeki dan kesempatan untuk melanjtkan S1 Perpustakaan, saya akan lanjtkan tapi setelah selesai melanjutkan S1 Manajemen dan jika kondisi anak saya memungkinkan untuk saya berkuliah lagi.

Yah, terkadang ngiri juga sih ngeliat suamiku yang sedang Sekolah Pilot untuk mengejar cita-citanya, sedangkan saya harus menunda bahkan mungkin tidak akan pernah tercapai cita-cita saya. Tapi Gak apa-apa, toh menikah itu menurut saya, kita harus bisa melepaskan 1/2 ego kita untuk orang-orang yang kita sayangi dan mudah-mudahan diridhoi Allah... Amin. (Ayo tetap semangat.......!)

Jalan-Jalan

Hari Jum'at kemarin, saya dan suami akhirnya bisa pergi berdua (cihuuuuy...) kebetulan Chusaeri sedang diajak sama nininya ke Sukabumi. Kita berdua memutuskan untuk makan steak di Obong Bogor. Selama perjalanan kami berdua membicarakan Chusaeri terus, kebetulan ini memang pertama kalinya dia menginap tanpa saya dan ternyata pada saat saya telepon nininya dia nangis minta pulang, berhubung saat itu sudah malam jadi gak mungkin langsung jemput kesana. Setelah kenyang makan, kita jalan-jalan sebentar ke Botani Square dan sampai di rumah pukul 22.30, pasang alarm biar ga kesiangan jemput chusaeri setelah sholat Shubuh.

Ternyata besok paginya hujan, karena jemputnya naik motor terpaksa deh kita menunggu sampai hujannya reda. Sampai di rumah nenek saya, Chusaeri sudah rapi dan langsung ngajak pulang, padahal kita berdua belum sempat sarapan. Setelah selesai sarapan dan merapikan semua pakaian anak saya akhirnya kita pulang. Di tengah jalan ternyata hujan dan tanggung banget kalo musti balik lagi, akhirnya kita memutuskan jalan terus dengan menggunakan jas hujan, ditengah jalan saya dan chusaeri jatuh dari motor, untung aja kita semua gak apa-apa dan Chusaeri cuma ketawa aja. Pokoknya seru dan capek banget jalan-jalan kemarin.